Festival Sapar - Saparan

Home / Festival Sapar - Saparan

Selasa, 26 Agustus 2025


Festival Sapar - Saparan

Banyuwangi Festival, Hadiri Tradisi Sapar-Saparan Sukojati Hari Ini

Tradisi Sapar-Saparan Sukojati Hari Ini pada tanggal 20 Agustus 2025. Acara ini bukan sekadar festival biasa, tapi benar-benar perayaan budaya penuh makna yang sudah turun-temurun dijaga masyarakat Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

 

 

 

Tradisi sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia yang merupakan suatu keseluruhan yang kompleks dan berbagai unsur yang berbeda seperti, pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat istiadat.

Lantas, apa itu tradisi Saparan? Berikut serba-serbi tradisi Saparan Sapar-saparan merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sukojati Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi,

Sapar-saparan berasal dari kata shafar yaitu nama bulan dalam kalender jawa. Sehingga, tradisi ini dilaksanakan setiap bulan safar tepatnya pada rabu terakir pada bulan Safar. Bulan Safar menurut penanggalan Islam merupakan bulan kedua dalam kalender hijriyah. Bulan ini menurut anggapan masyarakat memiliki keunikan yang serat akan mitos.
Tradisi Sapar – saparan merupakan bentuk selamatan atau syukuran yang diharapkan dengan diadakannya tradisi tersebut dapat mendatangkan banyak berkah dan rezeki, serta jauh dari malapetaka.

Bentuk Pelestarian Tradisi Saparan.

Setiap daerah memiliki cara yang berbeda dalam melestarikan tradisi Saparan, namun memiliki tujuan yang sama yaitu melestarikan kebudayaan daerah, dan sebagai wujud rasa syukur.

1. Selamatan Ditepi Pantai

Selamatan Ditepi Pantai adalah upacara ritual dan tradisi budaya masyarakat Jawa yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kebahagiaan, dan mengungkapkan rasa syukur atas anugerah Tuhan, serta mempererat tali silaturahmi dengan tetangga dan kerabat

2. Larung sesaji
Di Desa Sukojati yang mayoritas Suku Mandar yang dekat pantai melakukan tradisi Sapar-saparan dengan pelarungan sesaji. Adapun sesaji yang dilarungkan umumnya seperti buah-buahan, dan ayam ingkung, yang sudah terlebih dahulu dihiasi dengan bunga setaman, menyan, dan payung.

3. Kirab Budaya
Kirab budaya adalah salah satu prosesi dalam tradisi Sapar-saparan, yaitu masyarakat berbondong-bondong melakukan kirab keliling, dengan mengusung Jenang Sapar yang terbuat dari Tepung Ketan dan Gula Jawa dan dibungkus menggunakan daun Pisang serta dibagikan secara Gratis.

4. Sedekah Jenang Sapar
Membagikan jenang sapar kepada tetangga, saudara dan masyarakat secara gratis

5. Pagelaran Seni Budaya
Sehari Sesudah Selamatan di Pantai akan diadakan kegiatan pagelaran Budaya banyuwangi, yaitu pertunjukan BEC dan Gandrung .

Pentingnya Melestarikan Tradisi Sapar-saparan. Meskipun tradisi ini sudah ada sejak dulu, dan sudah mulai berkurang peringatannya lantaran adanya perkembangan zaman, tradisi ini harus tetap dilestarikan karena:

Tradisi Sapar-saparan sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang, memiliki nilai historis yang bermanfaat, bahwa pelaksanaannya mampu membangun generasi di masa depan. Tradisi Saparan adalah sumber legitimasi terhadap keyakinan, pandangan hidup berdasarkan aturan-aturan yang sudah ada dan ditetapkan sebelumnya. Tradisi Saparan mempererat hubungan silaturahmi antara satu dengan yang lainnya, memperkuat keyakinan dalam memahami tradisi keagamaan, serta mengokohkan loyalitas masyarakat. Memberikan solusi terhadap kekecewaan, keluhan dan ketidakpuasan terhadap kehidupan. Membuang kesialan yang dihadapi dan tolak balak Demikian penjelasan mengenai tradisi Sapar - saparan, semoga dapat menambah wawasan kalian dalam memahami tradisi dan kebudayaan di Banyuwangi



Bagikan Artikel :